Halaman 7 dari 13


Ekstrakurikuler Pakibra MAN 1 Cianjur : Memboyong 4 Piala, Raih Juara Tingkat Jawa Barat.


Cianjur – Ekstrakurikuler Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera) MAN 1 Cianjur baru saja meraih prestasi gemilang dengan memboyong 4 piala dalam ajang lomba tingkat Provinsi Jawa Barat. Keberhasilan ini sekaligus menambah deretan prestasi yang diraih oleh para siswa MAN 1 Cianjur dalam bidang non-akademik.

Pada kompetisi yang diadakan di [lokasi dan tanggal], Paskibra MAN 1 Cianjur berhasil meraih penghargaan dalam beberapa kategori bergengsi. Berikut adalah raihan prestasi yang berhasil didapatkan oleh tim:

  • Juara 1 Mula: Mengukuhkan diri sebagai yang terbaik di kategori Paskibra Mula.
  • Juara 3 Best Dress Code: Menghiasi panggung dengan penampilan seragam yang rapi dan menarik.
  • Juara 2 Potensial: Menunjukkan kemampuan dan potensi terbaik sebagai tim pengibar bendera.
  • Juara 4 Caraka: Meraih posisi keempat dalam kategori Caraka, yang menilai kedisiplinan dan kekompakan tim.

Prestasi ini tentu membanggakan tidak hanya bagi peserta dan pelatih, tetapi juga bagi seluruh keluarga besar MAN 1 Cianjur. Keberhasilan ini berkat kerja keras, disiplin, dan semangat juang tinggi yang ditunjukkan oleh seluruh anggota Paskibra.

Pelatih Paskibra MAN 1 Cianjur, Pembina ekstrakurikuler MAN 1 Cianjur menyampaikan rasa syukur dan bangga atas pencapaian ini. "Ini adalah buah dari latihan keras dan kebersamaan yang terjalin dalam tim. Kami sangat bangga dengan semangat dan dedikasi yang telah ditunjukkan oleh seluruh anggota," ujar Pembina paskibra.

Kepala MAN 1 Cianjur, Dra.Hj. Erma Sopiah juga memberikan apresiasi tinggi terhadap prestasi yang diraih oleh Paskibra. “Kami sangat mendukung segala bentuk kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan potensi siswa. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa siswa MAN 1 Cianjur tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga berprestasi dalam bidang non-akademik,” ujarnya.

Dengan raihan empat piala ini, Paskibra MAN 1 Cianjur semakin membuktikan kualitas dan profesionalisme mereka dalam setiap ajang kompetisi. Tim ini diharapkan akan terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terus berprestasi dan memberikan yang terbaik.

Keberhasilan ini juga diharapkan dapat memotivasi ekstrakurikuler lain di MAN 1 Cianjur untuk terus berprestasi dan membawa nama baik sekolah dalam berbagai ajang kompetisi di masa depan.


In House Training MAN 1 Cianjur : Langkah Cerdas Menuju Madrasah Digital


Cianjur – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cianjur menggelar kegiatan In House Training (IHT) yang dihadiri oleh Pengawas Madrasah, Jhon Effendy. Kegiatan yang berlangsung pada [tanggal] tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan MAN 1 Cianjur melalui pelatihan internal bagi seluruh tenaga pengajar.

In House Training ini menghadirkan berbagai materi yang relevan dengan perkembangan metode pengajaran serta teknologi pendidikan terkini. Diantara materi yang disampaikan adalah pembelajaran inovatif berbasi CBT. Para peserta pelatihan, yang terdiri dari guru-guru MAN 1 Cianjur, diberi kesempatan untuk mengasah keterampilan mereka dalam hal pembuatan soal berbasis CBT.

Jhon Effendy, selaku pengawas madrasah, dalam kesempatan tersebut memberikan sambutan dan arahan kepada para peserta. Ia menyampaikan pentingnya pembaruan dalam metode pembelajaran agar dapat lebih responsif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan siswa, dengan inovasi pembelajaran yang lebih inovatif dengan teknologi membuat madrasah menjadi terlihat modern di masa kini.

Selain itu, IHT ini juga menjadi sarana bagi para guru untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, serta saling mendukung dalam upaya menciptakan atmosfer pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari seluruh peserta, yang berharap pelatihan serupa dapat terus diadakan untuk menunjang profesionalisme dalam mengajar. Manajemen MAN 1 Cianjur juga berkomitmen untuk terus mengembangkan program-program pelatihan guna mendukung pengembangan kompetensi guru dan kualitas pendidikan di madrasah tersebut.

Dengan adanya In House Training ini, diharapkan dapat tercipta lingkungan belajar yang lebih inovatif dan berkualitas di MAN 1 Cianjur, serta memberikan dampak positif terhadap perkembangan akademik siswa.


Generasi Qur’ani : MAN 1 Cianjur Raih Juara 1 Musabaqoh Hifdzil Qur’an


Cianjur – MAN 1 Cianjur kembali menunjukkan prestasinya di bidang keagamaan dengan meraih Juara 1 dalam ajang Musabaqoh Hifdzil Qur'an yang diselenggarakan baru-baru ini. Dalam kompetisi yang diikuti oleh sejumlah peserta dari berbagai daerah ini, perwakilan dari MAN 1 Cianjur, Asma Nabila, berhasil menyabet gelar juara setelah menunjukkan kemampuan hafalan dan tajwid yang luar biasa.

Asma Nabila, siswa kelas X di MAN 1 Cianjur, membuktikan dedikasi dan ketekunannya dalam menghafal Al-Qur'an dengan meraih kemenangan di kategori hifdzil Qur'an. Prestasi yang diraih oleh Asma tidak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi teman-temannya untuk terus mencintai Al-Qur'an dan mengembangkan kemampuan dalam bidang hafalan.

Kepala MAN 1 Cianjur, Dra. Hj. Erma Sopiah menyambut gembira pencapaian ini. "Kami sangat bangga dengan prestasi yang diraih oleh Asma Nabila. Ini merupakan bukti bahwa MAN 1 Cianjur tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pembinaan karakter dan peningkatan kualitas spiritual siswa melalui pengajaran Al-Qur'an," ungkapnya.

Kompetisi Musabaqoh Hifdzil Qur'an tersebut digelar sebagai salah satu bagian dari upaya untuk meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur'an serta menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui pendidikan agama yang kuat. Para peserta diuji tidak hanya dalam hafalan, tetapi juga dalam pemahaman makna, serta kemampuan membaca dengan tajwid yang benar.

Dengan kemenangan ini, MAN 1 Cianjur semakin meneguhkan posisinya sebagai lembaga pendidikan yang berkomitmen untuk mencetak generasi Qur’ani yang berkualitas, yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam penguasaan kitab suci Al-Qur'an.

Asma Nabila sendiri mengaku sangat bersyukur atas prestasi ini dan bertekad untuk terus memperdalam hafalan serta meningkatkan kualitas dirinya dalam ilmu agama. "Semoga kemenangan ini bisa menjadi motivasi bagi saya dan teman-teman lainnya untuk lebih mencintai dan menghafal Al-Qur'an," ujarnya.

Selamat kepada Asma Nabila dan MAN 1 Cianjur atas prestasi gemilang ini, semoga terus menjadi teladan bagi generasi Qur'ani masa depan!


TANTANGAN-TANTANGAN DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MAKKAH


TANTANGAN-TANTANGAN DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MAKKAH

Oleh

Dede Mulyadi, S.Pd.I

 

Setelah turunnya wahyu kedua yaitu QS.Al-Muddatstsir[74]:1-7, Rasulullah SAW mulai melaksanakan perintah Allah SWT yaitu menyeru kaum yang berhati keras dan tidak beragama untuk menyembah Allah SWT. Tugas ini merupakan perkara yang berat dan besar karena beliau harus berhadapan dengan berbagai tantangan dan masalah, antara lain perombakan sistem kebudayaan,sosial, kepercayaan penduduk Makkah dan meluruskan sistem sosial yang tidak adil.

Rasulullah SAW mulai berdakwah di Makkah dimulai dengan melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi kepada keluarga, kerabat dan sahabat terkedatnya hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menyusun kekuatan dan pengikut setia, strategi dakwah ini berlangsung 3 sampai 4 tahun. Kemudian turunlah wahyu perintah berdakwah secara terang-terangan yaitu QS. Al-Hijr ayat 94. Setelah menerima wahyu ini Rasulullah SAW mulai melakukan dakwah secara terang-terangan.

Suatu ketika, Rasulullah Saw melakukan dakwah secara terbuka di Bukit Shafa dengan memanggil semua suku yang ada di sekitar Makkah. Untuk mengetahui apa yang akan disampaikan Muhammad, semua suku mengirimkan utusannya. Bahkan Abu Lahab, paman beliau pun hadir bersama istrinya (Ummu Jamil). Rasulullah Saw berseru, : ”Jika saya katakan kepada kamu bahwa di sebelah  bukit ada pasukan berkuda yang akan menyerangmu, apakah kalian percaya ?”. Mereka menjawab, : ”Kami semua percaya, sebab kamu seorang yang jujur dan kami tidak pernah menemui kamu berdusta”. Rasulullah Saw kemudian berseru kembali, : ”Saya peringatkan kamu akan siksa di hari kiamat. Allah Swt menyuruhku untuk mengajak kamu menyembah kepada-Nya, yaitu Tuhanku dan Tuhanmu juga, yang menciptakan alam semesta termasuk yang kamu sembah. Maka tinggalkanlah Latta, Uzza, Manat, Hubal dan berhala- berhala lain sesembahanmu”. Mendengar seruan tersebut Abu Lahab mencaci maki seraya berkata, : ”Hari ini kamu (Muhammad) celaka. Apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami semua ?”.

Selanjutnya Rasulullah Saw termenung sejenak memikirkan reaksi keras dari kaumnya yang menentang dakwahnya. Kemudian, turun wahyu yang menerangkan bahwa yang celaka bukanlah beliau, tetapi Abu Lahab sendiri. Allah Swt berfirman dalam (QS. Al-Lahab [111] ayat : 1-5).

Setelah peristiwa di bukit shafa, para pemimpin kafir mulai bereaksi melakukan upaya-upaya untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW yaitu meminta Abu Tahalib agar mau membujuk Rasulullah SAW menghintakan dakwahnya, mengutus Walid Mughirah  membawa seorang pemuda  untuk ditukarkan dengan Rasulullah SAW, menawarkan harta dan tahta, melakukan tindakan kekerasan fisik kepada umat muslim, dan melakukan tindakan pemboikotan kepada Bani Hasyim dan umat muslim. Melihat hal tersebut akhirnya untuk menyelamatkan umat muslim dari kekejaman kaum kafir Quraisy, Rasulullah SAW mulai memerintahkan umat muslim untuk melakukan hijrah.

Penolakan yang dilakukan oleh bangsa arab terhadap dakwah Rasulullah SAW tentunya bukan tanpa alasan yang menjadi penyebab, yaitu:

Pertama, bangsa Arab terkenal dengan bangsa paganisme. Sebagai masyarakat yang terkenal dengan paganisme, karena mereka menyembah berhala, masyarakat Makkah memiliki kesetiaan terhadap para leluhurnya dengan taqlid a’ma terutama dalam penyembahan terhadap berhala. Selain menyembah berhala, di kalangan bangsa Arab ada pula yang menyembah agama Masehi (Nasrani), agama ini dipeluk oleh penduduk Yaman, Najran, dan Syam. Di samping itu agama Yahudi yang dipeluk oleh penduduk Yahudi imigran di Yaman dan Madinah, serta agama Majusi (Mazdaisme), yaitu agama orang-orang Persia. (Mubasyaroh, 2015:393).

Kedua, Rasulullah SAW mengajarkan tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat. Hal itu tidak bisa diterima oleh para pemimpin Quraisy. (Al-Qahtani, 2007:56).

Ketiga, persaingan berebut kekuasaan. Pada masa itu terjadi perebutan kekuasaan antarsuku. Orang yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad Saw. dianggap telah tunduk kepada Nabi Muhammad Saw. dan Bani Hasyim. Sehingga suku yang lain menentang. Dakwah   yang dilakukan  nabi  dianggap sangat  mengancam  stabilitas  perdagangan  yang  sudah  lama berjalan. Dakwah Islam ditolak bukan semata-mata karena nabi Muhammad menyerukan tauhid (keesaan tuhan),  tapi  lebih  kepada  upaya  Nabi  yang dipahami para   pemuka   Makkah   sangat   membahayakan   bagi   aktivitas perekonomian.

Bagi  para  pemuka  Makkah,  dakwah  nabi  mengandung  gerakan  politik dan ekonomi sehingga apabila dakwah tersebut dibiarkan   maka   dapat   merubah   kota   Makkah   dari pusat   perdagangan menjadi  pusat  kekuasaan yang  tidak bisa   terhindarkan   dari   perseteruan   perebutan   ideologi   dan   kekuasaan sebagaimana yang terjadi di Romawi dan Persia. (Anwar dkk, 2020:257-258)

Keempat, takut kehilangan status sosial atau kasta. Kalangan bangsawan kaum Quraisy menentang dakwah Rasulullah tentang kesetaraan hak hamba sahaya dan kaum bangsawan (Al-Qahtani, 2007:56). Pada masa itu masyarakat Quraisy hidup berdasarkan status sosial atau kasta. Di mana terdapat kaum majikan dan kaum budak. Budak adalah milik majikan yang bisa diperjualbelikan dan hak-haknya sebagai manusia tidak dihargai sama sekali.

Selain itu, mereka yang membunuh anak perempuan karena khawatir nantinya akan kawin dengan orang asing atau orang yang berkedudukan sosial lebih rendah misalnya budak atau mawali. Di samping itu, khawatir jika anggota sukunya kalah dalam peperangan akan berakibat anggota kelaurganya yang perempuan akan menjadi harem-harem atau gundik para musuh. (Munfarida, 2015:216)

Struktur sosial berdasarkan usia juga menjadi gejala umum masyarakat ketika itu. Yang senior mendapatkan kesempatan lebih utama baru para yunior, dan ukuran senior dan yunior diukur berdasarkan usia, bukannya pertimbangan-pertimbangan lain. (Darmawijaya, 2017:137)

Kaum Quraisy sangat menentang ajaran Islam karena mereka merasa memiliki status sosial yang tinggi. Sedangkan agama Islam mengajarkan untuk saling menghargai satu sama lain. Manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Allah SWT. yang membedakan hanya tingkat ketaqwaannya saja.

Kelima, kekhawatiran hilangnya perdagangan patung sebagai mata pencaharian. Kaum kafir Quraisy adalah penyembah berhala. Mata pencarian masyarakat pada waktu itu adalah membuat dan menjual berhala Latta, Uzza, Manat dan Hubbal. Dengan berhenti menyembah berhala dan mengikuti ajakan rasulullah, berarti kegiatan ekonomi atau kegiatan mencari nafkah akan terganggu. Para pengrajin patung/ berhala menganggap penyembahan kepada Tuhan (Allah) sebagaimana yang dilakukan oleh rasulullah dan pengikutnya akan menghilangkan sumber mata pencaharian sebagian besar masyarakat Makkah. (Mubasyaroh, 2015:394)

Alasan-alasan tersebut menjadi acuan mereka menolak dakwah Rasulullah SAW di Makkah terlebih setelah Rasulullah SAW mulai berdakwah secra terang-terangan. Mereka gencar melakukan segala upaya dalam rangka mencegah dan menghalangi dakwah Rasulullah SAW, mereka tidak segan-segan melakukan tantangan bersifat keras dari mulai hinaan, ancaman dan siksaan. (Muslim, 2019:109) 

Kondisi ini tentunya menjadi sebuah kondisi yang tidak mudah bagi Rasulullah SAW dalam melaksanakan perintah Dakwah di Makkah. Hal ini dibuktikan dengan lambatnya perkembangan jumlah orang yang masuk Islam pada periode Makkah, yang memberi arti kepada kita bahwa adat istiadat dan tradisi selalu kuat mencengkeram nilai-nilai kehidupan di dalam masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Al-Qahtani, S. I. I. A., & Wahf, I. (2007). Kapan Manusia menjadi Kafir?, terj. Khairul Anwar, Solo: Pustaka al-‘Alaq.

 

Anwar dkk. (2020). Dimensi Ekonomi Politik Dalam Konflik Perebutan Sumber Kekuasaan Arab Islam, Jurnal Tashwirul Afkar Vol. 38, No. 02, 249-268.

Darmawijaya, Edi. (2017). Stratifikasi Sosial, Sistem Kekerabatan Dan Relasi Gender Masyarakat Arab Pra Islam. AKAMMUL: Jurnal Studi Gender dan Islam serta Perlindungan Anak Volume 6 Nomor 2, 132-151.

Muslim, K. L., & Hendra, T. (2019). Sejarah dan Strategi Nabi Muhammad. SAW di Mekah. Khazanah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan Islam, Volume 9, Nomor 18, 104-112.

Mubasyaroh. (2015). Karakteristik Dan Strategi Dakwah Rasulullah Muhammad Saw Pada Periode Makkah. AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Vol. 3, No. 2, 383-404.

 

Munfarida, Elya. (2015). Perkawinan Menurut Masyarakat Arab Pra Islam, YIN YANG. Vol. 10 No. 2,  210-232. 

Profil Singkat Penulis

 

Penulis bernama Dede Mulyadi, S.Pd.I. Lahir di Cianjur pada tangal 10 Maret 1990. Belaiau merupakan alumni STIT Al-Azami Cianjur Tahun 2015 dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2018. Saat ini penulis mengabdikan diri sebagai guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah Negeri 1 Cianjur.

 

Penulis bisa dihubungi di:

Email : dedemulyadi0711@gmail.com

 


Siswa MAN 1 Cianjur, Thaqifa Djamza, Raih Prestasi Gemilang di Tingkat Provinsi


MAN 1 Cianjur [29 September 2024]  – Thaqifa Djamza Shadavie, siswa berprestasi dari MAN 1 Cianjur, mengharumkan nama sekolah dan daerahnya dengan pencapaian luar biasa dalam berbagai bidang akademik. Thaqifa berhasil menyabet Juara 1 di Bidang Studi Bahasa Inggris, mengukuhkan dirinya sebagai salah satu siswa terbaik di bidang tersebut.

Tidak hanya itu, Thaqifa juga menunjukkan kecemerlangannya dalam ilmu ekonomi dengan meraih Juara 2 di Bidang Studi Ekonomi. Prestasi ini membuktikan bahwa Thaqifa memiliki wawasan yang luas dan kemampuan yang seimbang di berbagai disiplin ilmu. Selain dua prestasi tersebut, Thaqifa juga berhasil mendapatkan Medali Perak di Bidang Studi Bahasa Indonesia, menambah deretan penghargaan yang diraihnya di kompetisi tingkat Provinsi.

Pihak sekolah mengungkapkan rasa bangga atas capaian yang diraih oleh Thaqifa. “Prestasi ini merupakan hasil dari kerja keras dan dedikasi Thaqifa, serta dukungan penuh dari para guru dan keluarga. Kami berharap prestasi ini dapat memotivasi siswa lain untuk terus berprestasi,” ujar Kepala Sekolah MAN 1 Cianjur Dra. Hj. Erma Sopiah.

Prestasi yang diraih Thaqifa ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi MAN 1 Cianjur, tetapi juga membuktikan bahwa pendidikan di Cianjur mampu bersaing di tingkat Provinsi.

Dengan pencapaian tersebut, Thaqifa diharapkan dapat terus mengembangkan potensinya di kancah Nasional Oktober mendatang.

 

Humas MAN 1 Cianjur | September 2024

Instagram : @man1cianjur